Roymundussetya’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

METODE PELATIHAN AFEKTIF

Posted by roymundussetya pada Maret 19, 2010

I. PENDAHULUAN

. Dalam kesempatan kali ini kita akan membahas bab selanjutnya yaitu metode afektif. Metodologi pelatihan partisipatori dengan fokus khususnya pada metode-metode afektif bertujuan untuk memperbaiki keseluruhan proses pembelajaran baik cara belajar, mengajar, cara berinteraksi diantara guru dan murid dsb ditinjau dari aspek afektif atau sikap.
Kawasan Afektif meliputi Receiving, Responding, Valuing, Organization dan Correcterzation by value. Pengertian dari berbagai kawasan afektif yaitu :
a) Receiving
Kemampuan menerima yaitu perhatian terhadap stimulus atau rangsangan secara pasif yang meningkat menjadi aktif.
b) Responding
Kemampuan menanggapi yaitu merespon merupakan kesengajaan untuk menanggapi stimulus atau rangsangan dan merasa terikat serta secara aktif memperhatikan.
c) Valuing
Berkeyakinan atau menilai yaitu menilai gejala atau kegiatan sehingga dengan sengaja merespon lebih lanjut untuk mencari jalan bagaimana dapat mengambil atas apa yang terjadi.
d) Organization
Penerapan kerja atau mengorganisasi merupakan kemampuan untuk membentuk system nilai bagi dirinya berdasarkan nilai-nilai yang diresponnya.
e) Correcterzation by value
Ketelitian merupakan kemampuan untuk mengkonseptualisasikan masing-masing nilai waktu merespon stimulus dengan jalan mengkarakteristik nilai atau membuat pertimbangan-pertimbangan.
Bentuk interaksi diantara pengajar dan peserta didik merupakan kunci dari pembinaan sikap atau afektif. Persepsi diantara pengajar dan peserta didik berbeda-beda. Hubungan timbal balik yang terjalin diantara pengajar dan peserta didik akan berpengaruh terhadap sikap yang akan terbentuk sebagai hasil dari kegiatan belajar mengajar.
Pada ranah afektif apabila kita akan mengukur aspek afektif yang berhubungan dengan pandangan peserta didik maka pertanyaan yang disusun menghendaki respon yang melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi peserta didik terhadap hal yang relatif sederhana namun bukan fakta. Sedang apabila kita ingin melakukan penilaian afektif tentang sikap, maka kita akan menyusun pertanyaan mengenai respon peserta didik yang melibatkan sikap atau nilai.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal dalam pembelajaran partisipatif harus memperhatikan metode afektif yang dapat diterapkan pada peserta didik.

II. PEMBAHASAN

A. Karakteristik Ranah Afektif

Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu.
2. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
3. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
4. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
5. Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

B. Metode-Metode Afektif

 Diskusi kelompok kecil (membagi dalam bentuk kelompok yang beranggota sedikit agar semua anggota kelompok memiliki kesempatan dalam berpendapat)
 Permainan Peran : adalah suatu pengalaman terstruktur dimana orang-orang yang belajar mendapatkan suatu kesempatan untuk beraksi mengenai persoalan-persoalan yang berkenaan dengan hubungan manusia dan interaksi manusia dihadapan kelompok sesama orang yang belajar dan fasilitator-fasilitator.
 Latihan adalah suatu metode yang membantu untuk memahami proses-proses yang sulit dan rumit.
 Simulasi adalah suatu metode pembelajaran interaktif , simulasi melibatkan penyusunan dan penciptaan kembali suatu situasi yang rumit didalam konteks suatu program pelatihan.. Variasi dan teknik simulasi yaitu atas dasar fokus pembelajaran ( bersifat organisasional atau sosial, simulasi dinamika organisasional, simulasi sosial, simulasi partisipasi wanita di dalam pembangunan)
 Studi kasus adalah metode yang melibatkan pembelajaran melalui pengalaman orang lain atau organisasi lain secara spesifik pada saat pengalaman itu tidak tersedia bagi kelompok itu sendiri.
 Permainan pembelajaran adalah metode–metode yang menyenangkan, lincah dan melibatkan hampir semua peserta
 Metode energizer/ice breaker bukanlah metode pembelajaran sesungguhnya tetapi memenuhi tujuan dari nama yang ditunjukan ( ada aktivitas yang menyenangkan, kadang menggunakan gerak fisik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang sesuai)
 Alat adalah suatu pengalaman yang terstruktur dimana orang yang belajar diberikan suatu format cetakan tertentu yang berisi perintah yang jelas dan serangkaian pertanyaan.
Variasi atau teknik alat bisa berdasarkan pada antar pribadi maupun dalam pribadi pada analisis.
Beberapa metode-metode afektif diatas akan coba kami jabarkan secara ringkas dan mendalam melalui pembahasan sebagai berikut:
1. Diskusi Kelompok Kecil

Diskusi kelompok kecil dengan partisipasi, berbagi pengalaman, dan kendali gabungan atas proses pembelajaran merupakan dasar metode ini. Metode ini menggunakan prinsip perwakilan dan pemfungsian yang demokratis. Metode yang efektif dipakai dalam tahap awal pelatihan karena membantu membangun kelompok tersebut dan lingkungannya. metode ini juga memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk berbagi pengalaman, gagasan, mengajukan pertanyaan dan mengkritik isu-isu.
Metode diskusi kelompok kecil dapat digunakan dengan metode ganda yang lain seperti kuliah, permainan peran, simulasi, studi kasus, dsb. Namun sebelum kita menggunakan dengan metode yang lain agar penggunaan metode dapat efektif maka syarat-syarat tertentu harus dipenuhi agar perpindahan tahap satu ke tahap yang lain bisa saling berkesinambungan.
Keuntungan :
 membantu anggota kelompok mengenali apa yang harus dilakukan dan tidak mereka ketahui dalam hubungan dengan anggota lain dalam kelompok.
 membantu mencoba menjawab pertanyaan melalui pengalaman dan wawasan anggota yang lain.
 memberikan kesempatan pada anggota yang bersifat pendiam, pemalu dan terhambat agar mampu berhubungan dengan anggota yang lain.
 membantu membangun dan meningkatkan keterlibatan anggota dalam tugas dan proses kelompok
 meningkatkan rasa memiliki kelompok dan kreativitas
 terjadi proses mendalami teori, membangun kelompok dibandingkan dalam kelompok besar
 adanya pengalaman beragam untuk menantang pengalaman yang dominan dan berpikir mengenai gagasan yang baru dan ideal serta memungkinkan perumusan baru
Keterbatasan :
 memperlukan fasilitas aktif dan fasilitator pada tahap awal
 bila tidak dilaksanakan dengan baik dapat menjadi metode yang menghabiskan waktu dan memperlukan kesabaran
 anggota yang dominan terkadang menghambat anggota lain dalam berpendapat
 diperlukan ruang yang lebih luas untuk mengakomodir kelompok kecil
 terkadang pembicaraan hanya sekedar cerita
 bila fasilitator menganggap diskusi kelompok kecil sebagai penanggan untuk kelompok besar bukan partisipasi maka proses demokrasi akan berkurang
 bila menggunakan metode yang berlebihan menjadikan kelompok menjadi stereotype
Tip bagi fasilitator :
 fasilitator seharusnya membuat peran yang jelas dan tanggung jawab yang jelas
 fasilitator harus mendistribusikan tanggung jawab pada seluruh anggota kelompok
 10 menit sebelum waktu habis, fasilitator mengingatkan batas waktu dan mendorong mereka menyelesaikan waktu
 fasilitator mengecek alat tulis dan memberikan perhatian pada gangguan yang akan menggangu jalannya diskusi, kelompok yang telah selesai dilarang menganggu kelompok yang lain
 laporan yang telah tersusun dilaporkan, termasuk isu-isu yang muncul
 adanya konsolidasi dan peringkasan laporan
Variasi dan teknik metode diskusi kelompok kecil terbagi berdasarkan tujuan dan tugas yang diberikan pada kelompok. Bila bertujuan untuk berbagi pengalaman maka tugasnya sama sedangkan bila tujuannya ingin mengeksplorasi maka tugas-tugas dibagi menjadi aspek yang berbeda. Variasi dari teknik metode diskusi kelompok kecil yaitu berdasar durasi (kelompok yang berbicara desas desus dan kelompok sindikat), sub tema (teknik carousel, dan teknik jigsaw), berdasarkan perbedaan tugas pada kelompok ( topi hitam- topi hijau, mangkok ikan).

2. Permainan Peran

Keuntungan :
 metode yang sederhana dan biaya rendah
 berfokus pada persoalan dan membantu orang –orang yang belajar untuk menghadapi
 adanya isu pokok yang besar dalam periode waktu yang singkat
 memberikan kesempatan dengan resiko yang rendah kepada individu-indivisu untuk mencoba dengan pola baru dan terbuka terhadap dukungan dan pemahaman kelompok
 mengungkap seorang individu dalam berbagai sudut pandang dan reaksi pada situasi tertentu yang mungkin tidak memungkinkan dalam kenyataan
 tidak memperlukan banyak bahan atau persiapan lanjutan
Keterbatasan :
 jika orang yang belajar tidak sepenuhnya terlibat maka pembelajaran bisa terhambat
 peserta yang terlibat secara mendalam dalam peran-peran mereka mungin akan kehilangan dalam obyektivitas
 bila tidak berhati-hati maka peran akan diperankan secara berlebih-leihan, terganggu atau kurang dari seharusnya peran yang dimainkan sehingga mengurangi potensi dalam pembelajaran
 pencerminan diperlukan untuk menyoroti isu-isu dan dinamika peran yang dimainkan bila perhatian tidak cukup akan mengurangi pembelajaran permainan peran.
Tip bagi fasilitator :
 fasilitator harus menyusun tahap untuk aktivitas permainan peran
 sasaran pembelajaran dan pelajaran harus ditentukan terlebih dahulu sebelum memilih suatu permainan peran tertentu
 fasilitator harus waspada terhadap terhadap persoalan-persoalan emosional yang akan menggangu dalam permainan peran
 diskusi dan analisis kelompok menyusul permainan peran dan kepedulian harus diberikan tidak untuk meremehkan individu manapun
 fasilitator seharusnya mengidentifikasi suatu persoalan dan situasi yang berarti bagi kelompok tersebut dan akan memenuhi sasaran –sasaran pembelajaran
 persoalan didefinisi dengan baik, spesifik dan tidak terlalu rumit strukturnya
 menyeleksi individu untuk permainan peran mungin bersifat sukarela yang diputuskan di antara para anggota atau oleh fasilitator
 fasilitator tidak perlu mendorong individu yang merasa ragu-ragu dalam memotret suatu peran tertentu
 agar pembelajaran berlangsung maka keterlibatan aktif dari orang – orang yang belajar bersifat pokok
 dalam menyusun tahap, dasar pemikiran dari situasi – situasi permainan peran seharusnya dijelaskan
 permainan peran harus segera dihentikan apabila pada adegan tertentu diperpanjang dan mengalami jalan buntu
 adanya pembatasan waktu yang jelas
 selama sesi berbagi dan analisis, diskusi seharusnya difokuskan pada pengamatan, perasaan, pemahaman bukan pada pendapat dan saran-saran
 jika diagnosis dari persoalan membuka seluruh cara menyelesaikan suatu persoalan maka situasi permaian peran yang berbeda bisa dicoba untuk dipraktekan dalam pendekatan dan tindakan baru.
Variasi dan teknik permainan peran bisa digolongkan berdasar fokus pembelajaran ( berorientasi pada proses dan sosiodrama atau isu-isu sosial), kelompok yang tampil (permainan peran sederhana dan ganda)

3. Latihan

Keuntungan
Beberapa keuntungan kunci dari latihan sebagai metode pembelajaran adalah;
 Latihan merupakan suatu metode yang sederhana dan berbiaya rendah.
 Latihan mengungkapkan suatu situasi yang mungkin tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.
 Latihan membantu mencitakan kewaspadaan terhadap isu nilai dan persepsi
Keterbatasan
 Latihan tidak tersedia dengan mudah dan harus dirancang.
 Latihan mendorong banyak emosi dan tegang pada saat-saat tertentu.

4. Simulasi

Simulasi merupakan suatu metode pembelajaran praktek interaktif yang melibatkan penciptaan situasi atau ruang belajar dalam suatu program pelatihan.Tujuan dari simulasi adalah untuk memunculkan pengalaman pembelajaran selama mengikuti program pelatihan. Metode ini mirip dengan permainan peran, tetapi dalam simulasi, peserta peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat melakukan kegiatan. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang)

Variasi /Teknik dalam Simulasi
 Simulasi Organisasional : simulasi ini bermaksud mengajak peserta melalui suatu pengalaman berbagi dinamika organisasi untuk memahami dan menganalisis isu-isu organisasi.
 Simulasi sosial : simulasi ini dimaksudkan mengajak peserta melalui suatu pengalaman yang berkaitan dengan persoalan-persoalan sosial.

5. Studi Kasus

Metode studi kasus bisa dilaksanakan dalam langkah-langkah berikut:
 Membaca atau mendengarkan presentasi kasus secara bersama
 Pencerminan individual mengenai beberapa kunci yang disoroti dalam ringkasan.
 Diskusi kelompok kecil untuk mengekplorasi isu lebih lanjut.
 Menyarikan wawsan
 Analisis dan sintesis bersama
 Peringkasan
 Umpan balik pada berbgai kemungkinan yang sekarang ada untuk tindakan.

6. Permainan Pembelajaran

Keuntungan
 Permainan ini lincah, menyenangkan, dan melibatkan partisipasi setiap orang.
 Isu-isu yang rumit bisa dijelaskan dalam suatu cara yang sederhana.
Keterbatasan
 Menemukan atau merancang permainan yang sesuai tidaklah begitu mudah
 Permainan menimbulkan kesenangan terkadang menjadikan tujuan pembelajaran kabur/tidak kena sasaran.
Tip-tip bagi fasilitator
 Fasilitator seharusnya berhati-hati untuk memilih suatu permainan yang sesuai sehingga memenuhi sasaran pembelajaran.
 Fasilitator seharusnya memberikan perintah pada permulaan permainan.
 Fasilitator seharusnya mampu menarik pembelajaran dari permainan.

7. Energizer/Ice Breaker

Energizer/Ice Breaker bukanlah metode pembelajaran yang sesungguhnya, tetapi memenuhi tujuan dari nama yang ditunjukkan. Kegiatan ini merupakan aktivitas yang menyenangkan dan kadang-kadang menggunakan gerakan fisik untuk menciptakan suasana lingkungan pembelajaran yang sesuai. Permainan ini membantu individu untuk berinteraksi satu sama lain dan menciptakan suatu perasaan kelompok. Permainan, lagu dan latihan fisik bisa digunakan, membantu dalam memperkenalkan para peserta satu sama lain, dan memecahkan kemonotonan. Ice Breaker bisa digunakan kapanpun komunikasi telah berlangsung, pada awal atau setengah jalan melalui suatu latihan atau lokakarya.

8. Alat-alat

Keuntungan
 Bisa menjadi suatu metode yang sangat efektif untuk belajar lebih jauh tentang diri seseorang sendirimelalui pengujian diri yang sistematis, pencerminan, dan dalm beberapa kasus umpan balik
 Orang yang belajar tidak merasakan tekanan atau dorongan eksternal
Keterbatasan
 Hanya bisa digunakan dengan sebuah kelompok yang berpendidikan
 Membutuhkan sebuah kejujuran dan kepentingan asli dipihak orang yang belajar untuk memunculkan data yang berarti.
 Bekerja lebih baik dengan orang-orang yang bisa belajar secara intelektual pada tingkat absraksi.
 Sangat sulit untuk merancang alat seperti ini
Tip-tip bagi fasilitator
Fasilitator seharusnya menjelaskan pertanyaan secara tepat kepada para peserta, jka tidak maka bisa mengarah pada penentuan skor yang salah dan lambat laun pada interpretasi yang salah.
Variasi/Teknik alat
Alat bisa dibedakan dalam dual hal yaitu:
 Alat antar pribadi, Dalam hal ini, fokusnya adalah mengetahui perilaku seseorang sendiri dan analisis dilakukan pada tingkat individu oleh individu
 Alat dalam pribadi. Alat ini diisi oleh individu atau anggota kelompok, dilakukan proses analisis serta umpan balik yang dilakukan didalam kelompok.
III. PENUTUP

Demikian pembahasan kita mengenai beberapa contoh metode-metode afektif. Metode – metode afektif yang terdiri diskusi kelompok kecil, permainan peran, latihan, simulasi, studi kasus, permainan pembelajaran, energizer atau ice breaker dan alat. memiliki keuntungan dan keterbatasan masing-masing apabila digunakan. Namun pemilihan dan penggunaan metode-metode afektif yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi semoga mampu untuk memperbaiki keseluruhan proses pembelajaran baik cara belajar, mengajar, cara berinteraksi diantara guru dan murid dsb ditinjau dari aspek afektif atau sikap.
Permasalahan yang kita hadapi saat ini adalah sudah siapkan pengajar dan pebelajar dalam menggunakan metode-metode afektif. Sebab kita tahu bahwa penguasaan metode-metode afektif, hanya salah satu pihak saja kurang memaksimalkan hasil yang diharapkan.

Daftar Pustaka

Andersen, Lorin. W. (1981). Assessing affective characteristic in the schools. Boston: Allyn and Bacon.

Anju Dwivedi. 2006. Merancang Pelatihan Pelatihan Partisipatif Untuk Pemberdayaan. Yogyakarta : Pondok Edukasi.

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi Aksara.

Dewi SP, Eveline Siregar.2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Jakarta.

Sowel, E.J. 2000. Corriculum : An Integrative Introduction. Upper Saddle River, New Jersey : Merrill.

Sudrajat, Akhmad (2008), Pembelajaran Afektif. http:/akhadsudrajat.wordpress.com, 15 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: